Dari Diskusi ke Lapangan, Apa yang Kami Pelajari Bersama Nyawiang Segara?

Apa yang sebenarnya terjadi setelah sebuah lamun ditanam? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi kami di Nyawiang Segara, jawabannya tidak sesederhana menunggu lamun tumbuh. Ada kondisi perairan yang berubah, sedimentasi yang perlu diamati, metode yang perlu dievaluasi, dan yang tidak kalah penting, orang-orang yang terus belajar dari setiap proses yang mereka jalani.
Restorasi bukan garis lurus dari penanaman menuju keberhasilan. Kadang, kita perlu berhenti, melihat kembali apa yang sudah dilakukan, lalu bertanya: apa yang bisa kami pelajari dari sini? Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kami menjalani proses mentorship bersama Dr. Trialaksita Sari Priska Ardhani, seorang peneliti senior yang berspesialisasi dalam hutan mangrove dan karbon biru.
Nyawiang Segara merupakan inisiatif restorasi lamun berbasis komunitas di Pantai Mertasari, Bali. Proyek ini kami jalankan melalui tiga pendekatan yang saling terhubung: Restoration, Education, and Storytelling. Bagi kami, memulihkan lamun bukan hanya tentang menanam kembali vegetasi di dasar laut. Kami juga ingin menciptakan ruang bagi anak muda dan masyarakat untuk mengenal ekosistem tersebut, mengalami langsung prosesnya, dan membawa ceritanya lebih jauh.
Perjalanan itu dimulai melalui kegiatan The Explore pada 14 Juli 2026 di Pantai Mertasari. Bersama relawan dan nelayan lokal, peserta belajar mengenal ekosistem lamun sekaligus mencoba proses restorasi menggunakan metode BoSSLine. Bersama Maulyadi Salasanto dari Melacak Alam, mereka juga diajak mengeksplorasi berbagai fauna yang ditemukan di sekitar ekosistem lamun.

Kegiatan The Explore di Pantai Mertasari. Credit: Michelle Angelina Sharon – Bendega
Sebanyak 318 lamun ditanam dalam kegiatan tersebut. Namun, bagi kami, hal yang menarik justru terjadi setelah proses penanaman. Para peserta mulai memperhatikan apa yang ada di sekitar mereka: fauna, kondisi habitat, dan hubungan antara lamun dengan ekosistem pesisir lainnya. Mereka berdiskusi dalam kelompok dan membagikan kembali apa yang mereka temukan.
Di titik itu, kami melihat bahwa kegiatan restorasi dapat menjadi lebih dari sekadar aktivitas lapangan. Ia dapat menjadi ruang untuk bertanya dan belajar. Semangat tersebut kemudian berlanjut melalui kegiatan Young Ranger bersama Forum Anak Daerah (FAD) Badung, FAD Bali, FAD Denpasar, dan FAD Gianyar. Sebanyak 360 lamun kembali ditanam, disertai diskusi yang mengajak peserta merefleksikan pengalaman mereka selama berada di ekosistem lamun.

Young Ranger melakukan penanaman lamun . Credit: Michelle Angelina Sharon – Bendega
Kedua kegiatan tersebut merupakan bagian dari target 1.000 lamun dalam perjalanan Nyawiang Segara. Hingga kunjungan mentorship pada 23 Agustus 2026, sebanyak 678 lamun telah tertanam. Masih ada 322 lamun yang menjadi bagian dari target berikutnya, yang kemudian dilanjutkan pada 15 September 2026.
Bagi kami, angka 678 bukan sekadar angka capaian. Justru di balik angka tersebut muncul pertanyaan-pertanyaan yang lebih penting. Bagaimana kondisi lokasi setelah penanaman? Apa yang terjadi pada titik-titik yang sudah ditanam? Apa yang perlu diperhatikan ketika kami melanjutkan penanaman? Dan bagaimana memastikan bahwa proses yang kami lakukan tidak berhenti ketika kegiatan selesai? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bagian dari percakapan ketika Sita berkunjung ke Bendega Foundation pada 23 Agustus 2026. Pertemuan dimulai di kantor. Kami berbagi perkembangan Nyawiang Segara, menceritakan kegiatan yang telah dilakukan, membahas tantangan yang ditemui, dan melihat kembali langkah yang masih harus dikerjakan.

Sita bersama Tim Bendega saat diskusi di kantor. Credit: Gede Budi Wirabuana – Bendega
Namun, sesi tersebut tidak terasa seperti presentasi satu arah. Bagi kami, mentorship justru menjadi ruang untuk membuka kembali hal-hal yang mungkin terlalu cepat kami lewati ketika sedang sibuk menjalankan kegiatan. Ketika sebuah proyek sedang berjalan, mudah untuk terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya. Kehadiran mentor memberi kami kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat perjalanan tersebut secara lebih utuh.
Salah satu hal yang kami diskusikan adalah bagaimana memahami restorasi melalui apa yang benar-benar terjadi di lapangan. Rencana dan metode penting, tetapi ekosistem memiliki dinamika sendiri. Pergerakan air, sedimentasi, cuaca, kondisi substrat, hingga aktivitas di sekitar lokasi dapat memengaruhi proses restorasi.
Karena itu, monitoring bukan hanya soal mengumpulkan angka. Monitoring adalah cara untuk memahami cerita yang sedang berlangsung di bawah permukaan. Setelah berdiskusi di kantor, kami kemudian membawa percakapan tersebut ke tempat di mana cerita itu berlangsung: Pantai Mertasari.

Sita dan Tim Bendega di lokasi restorasi Mertasari. Credit: Gede Budi Wirabuana – Bendega
Di lapangan, percakapan terasa berbeda. Kami dapat melihat langsung area restorasi, implementasi BoSSLine, dan kondisi lingkungan di sekitar titik penanaman. Hal-hal yang sebelumnya hanya dibicarakan melalui data atau dokumentasi menjadi lebih mudah dipahami ketika dilihat secara langsung.

Sita/Tim mengamati BoSSLine atau area lamun. Credit: Gede Budi Wirabuana – Bendega
Bagi kami, pengalaman ini mengingatkan bahwa data tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap angka terdapat kondisi lapangan, keputusan, interaksi, dan proses belajar. Begitu juga dengan angka 678. Ia menunjukkan seberapa jauh kami telah berjalan menuju target 1.000 lamun, tetapi sekaligus mengingatkan kami bahwa restorasi tidak selesai ketika target penanaman tercapai. Apa yang terjadi setelah penanaman justru menjadi bagian penting dari perjalanan berikutnya.
Di sinilah kami merasakan nilai mentorship secara lebih nyata. Sita tidak datang dengan semua jawaban. Sebaliknya, percakapan kami membuka ruang untuk melihat kembali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum selesai. Perspektif yang ia bawa dari pengalaman restorasinya bertemu dengan pengalaman kami bekerja bersama komunitas pesisir di Bali. Dari sana, mentorship menjadi proses pertukaran pengetahuan, bukan hubungan satu arah.

Momen diskusi atau bertukar pengalaman di lapangan. Credit: Gede Budi Wirabuana – Bendega
Bagi kami, memiliki mentor juga berarti memiliki seseorang yang dapat membantu melihat proyek dari sudut yang berbeda. Ketika kami terlalu dekat dengan proses sehari-hari, terkadang sulit melihat gambaran besarnya. Pertanyaan sederhana dari orang lain dapat membuat kami memikirkan kembali sebuah keputusan atau melihat tantangan dengan cara yang berbeda.
Hal tersebut tidak selalu menghasilkan jawaban instan. Tetapi justru di situlah pembelajarannya. Kami belajar bahwa tidak semua tantangan harus langsung diselesaikan dalam satu pertemuan. Beberapa membutuhkan observasi lebih lanjut, diskusi dengan komunitas, monitoring, dan keberanian untuk menyesuaikan pendekatan ketika kondisi lapangan menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Mentorship juga membantu membangun kepercayaan diri kami untuk melihat proses tersebut sebagai bagian normal dari restorasi. Tidak mengetahui semua jawaban bukan berarti proyek tidak berjalan. Justru kemampuan untuk bertanya, mengevaluasi, dan beradaptasi menjadi bagian dari bagaimana sebuah proyek dapat berkembang.

Foto bersama Sita dan Tim Bendega. Credit: Gede Budi Wirabuana – Bendega
Perjalanan Nyawiang Segara masih terus berjalan. Ketika Sita berkunjung pada 23 Agustus, dua dari empat rangkaian kegiatan telah terlaksana dan 678 lamun telah tertanam menuju target 1.000. Penanaman berikutnya pada 15 September menjadi bagian dari kelanjutan proses tersebut. Namun, yang kami bawa dari mentorship bukan hanya catatan tentang apa yang harus dilakukan berikutnya. Kami membawa cara pandang baru terhadap proses itu sendiri.
Dari diskusi di kantor hingga pengamatan di Mertasari, kami kembali diingatkan bahwa restorasi membutuhkan aksi, tetapi juga refleksi. Membutuhkan metode, tetapi juga kemampuan untuk membaca kondisi ekosistem. Membutuhkan target, tetapi juga kesabaran untuk memahami proses di balik target tersebut.
Nyawiang Segara mungkin dimulai dengan pertanyaan tentang bagaimana memulihkan lamun. Tetapi semakin kami berjalan, semakin kami menyadari bahwa proyek ini juga tentang bagaimana manusia belajar untuk kembali terhubung dengan ekosistem yang sering kali tidak terlihat. Lamun tumbuh di bawah permukaan, perlahan dan tidak selalu terlihat oleh mata. Begitu pula pembelajaran dari restorasi. Kadang ia tumbuh dari sebuah penanaman. Kadang dari sebuah pertanyaan. Dan kadang, dari percakapan antara dua orang yang sama-sama bersedia berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui, lalu belajar bersama tentang ke mana harus melangkah selanjutnya.